Hasbi Maulana
Memang, banyak masyarakat mengatakan sukses itu bila kita”berlimang harta” dan juga bila kita telah mencapai sebuah popularitas atau juga kalau kita dapat memenuhi segala sesuatu yang bersifat duniawi
Tapi banyak tidak sadar,bahwa kesuksesan itu tidak hanya dapat diukur dari segi eksternal saja. Kita juga bisa definisikan arti kesuksesan dari segi internalnya. Seperti halnya bila kita bisa mengakhiri hidup kita dengan meninggalkan banyak memori nan manis atau bila diri kita sudah mencapai tingkat ketakwaan orang zuhud ataupun orang wara’ terdahulu ataupun bila diri kita di dunia ini bisa menjadi orang yang ukhrijat linnasi ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billahi. Dan masih banyak lagi persepsi masyarakat tentang definisi kesuksesan tersebut
Lalu kita merujuk pada realita, bagi masyarakat menengah ke bawah(GAKIN) kesuksesan itu bisa diefinisikan bilamana mereka sudah cukup makan,minum,tidur, ataupun bisa member makan anaknya.
Mengapa begitu? karena mereka sendiri menganggap bahwa orang-orang kaya atau masyarakat yang sudah mapan kehidupannya itu sudah meraih sebuah”kesuksesan”. Tapi realitanya tidak,sungguh jikalau para keluarga miskin itu tahu keadaan para keluarga yang mapan kehidupannya itu pasti mereka akan selalu berdo’a untuk tetap menjadi miskin. sungguh orang-orang kaya yang memiliki rumah semegah hotelpun sebenarnya dalam benak mereka terdapat sebuah kegelisahan yang sangat mendalam,karena mereka tidak tenang,takut, gelisah kalau-kalau datang segerombolan perampok yang akan mengondol rumah mereka ataupun orang-orang kaya yang memiliki kekayaan setinggi gunung himalayapun pasti didalam lubuk hati mereka terdapat perasaan takut yang selalu menghantui mereka setiap saat,mereka takut akan kehilangan harta benda yang selama ini mereka tumpuk dan mereka bangga-banggakan. Jadi sesungguhnya mereka hanyalah menbuang-buang waktu untuk mencari harta benda dan menumpuk-numpuknya sedang mereka tidak dapat menikmatinya secara optimal
Tapi, ketahuilah saudara-saudaraku. Sukses itu tidak harus bilamana kita sudah menjadi kaya ataupun telah mencapai sebuah pupularitas ataupun kita bisa memenuhi segala kebutuhan duniawi kita. Tapi, sukses itu menjadi sangatlah bermakna jika kita menjadi orang yang ‘anfa’uhum linnasi dan menjadi orang yang bermultifungsi serta dibutuhkan banyak orang
Kita sebagai penerus bangsa harus sadar, bahwa sukses itu iut tidak hanya sebatas di dunia ini saja. Tetapi kita haru berkontemplasi diri, bahwasanya ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini yaitu, kehidupan di akherat kelakdan abadi
Jangan hanya bisa berimajinasi,tanpa adanya aplikasi yang berpengaruh. Cobakita mencerna salah satu perkataan orang bijak di bawah ini “man purposes god disproses” manusia beruaha berusaha tuhan yang menentukan
Atau kita bisa ambil hikmah dari firman Allah yang Artinya “allah tidak akan merubah suatu kaum,sampai kaum tersebut mengubah dirinya sendiri”(al ayat)
Berpikirlah ke depan,timbulkanlah inisiatif-inisiatif yang mengarah pada sebuak kesuksesan nan tak terbata,janganlah berpikiran dangkal. Sesungguhnya diri kita membutuhkan kesuksesan yang” bermakna” tidak hanya kesuksesanyang bersifat duniawi semata.
Sungguh kesuksesan kita yang hakiki berada di atas “arsy” sana,hiasilah diri kita dengan berjuta-juta impian dan harapan yang mekjerumus pada kesuksesan abadi baik di dunia maupun di akherat kelak. Amien.
*penulis masih aktif menulis di beberapa bidang seperti halnya cerpen,opini,esai dll dan sekarang dia menempuh studinya sebagai santri ponpast al-amien dengan status santri ‘aliyah
kirim ke teman | versi cetak