Interaktif

Rubrik

Artikel Terakhir

Top Download

Random Links

CATATAN LUSUH SANG MUSAFIR

View : 27 x hits
Join : 16-Feb-2010 15:59:19

Login


Username
Password

Register
Forgot Password

Statistik Situs

Visitors :40444 Org
Hits : 95331 hits
Month : 979 Users
Today : 57 Users
Online : 3 Users

Langganan Artikel Portal KWQ

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 

Pesantren dan Jurnalistik

Kamis, 14 Mei 2009 22:08:08 - oleh : admin

Oleh: Hidayatullah
Pesantren merupakan tempat menimpa ilmu bagi para pumuda dan pemudi Islam. Dimana didalam pesantren memiliki aturan yang sangat berbeda dengan peraturan yang ada di luar pesantren,dapat kita ambil contoh dari segi pendidikanya,yangmana sekolah-sekolah pada umumnya hanya menggunakan waktu untuk mendidik muridnya maksimal 10 jam,sedangkan pesantren menggunakan sistem belajar atau mendidik 24 jam.dimana para santri dan santriwati dituntut untuk mematuhi peraturan tersebut agar bisa menetap di lingkup pesantren itu sendiri ,karena pesantren tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan atau denga kata kasarnya diusir dari pesantren, apabila seorang santri dan santriwati tidak mematuhi undang-undang yang ada di psantren. 

Membahas masalah jurnalistik yangmana jurnalistik itu identik dengan tullis-menullis maka dapat kita ambil kesimpulan bahwasanya pesantren mempunyai peran khusus dalam menciptakan orang-orang jurnalis,karena sudah jelas pesantren sangat strategis untuk menciptakan orang seperti itu,coba kita lihat akan keidentikan jurnalistik itu sendiri yangmana identik dengan tulis menulis ,sedangkan pesantren menggunakan sistem belajar atu pendidikan 24 jam dimana pendidikan itu tidak akan pernah lepas dari yang namanya jurnalisti atau tulis menulis,jadi secara otomatis pesatren adalah gudang orang-orang jurnlils. 

Banyak orang beranggapan bahwa pesantren akan mencetak orang-orang yang kolot dan kuper. Tapi hal itu dapat kita sanggah akan kesalahan anggapan itu, karena pada dasarnya pesantren merupakan wadah segala ilmu. Baik itu ilmu tentang agama dan ilmu umum, misalnya tauhid, fiqih dan nahwu. Dari segi ilmu umum, dapat kita ambil contoh matematika, fisika, biologi dan bahasa Indonesia. Maka pesantren merupakan sistem perpaduan antara pendidikan agama dan pendidikan umum, sehingga intelektual terdidik dan moralpun ikut juga terdidik, maka tidak ada simpang-siur dan seimbang antara moral dan intelektual. Jelaslah orang-orang pesantren tidak akan pernah dikatakan kolot dan kuper. Hal itu dapat kita buktikan dalam hal jurnalistik, misalnya Misrawi, Jamal D. Rahman dan Ahmadi Toha, itu semua orang-orang pesantren.

Dalam bidang kejurnalistikan, pesantren tidak akan kekurangan stok karena setiap kali dan setiap waktu mereka (santriwan dan santriwati) hanya diisi dengan ibadah, menulis dan belajar. Sehingga mengakibatkan bagi mereka terbiasa menulis dan mengenal kaidah dalam tulis-menulis, sebagai mana pepatah mengatakan _ bisa karena terbiasa_. Segala sesuatu apabila sudah terbiasa, maka lambatlaun akan bisa. Apalagi dalam pesantren itu disediakan tempat khusus untuk mengenal lebih dalam tentang jurnalistik, misalnya majalah, buletin, mading dan masih banyak lagi yang lainnya. Kita ambil contoh yang telah terkenal saja seperti majalah Buletin SIDOGIRI dan majalah QALAM, buletin dan majalah tersebut ditulis dan diterbitkan di pesantren.

Maka sudah jelas akan status pesantren dengan jurnalistik yang telah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

*Masih aktif sebagai aktifis Kajian Waraal Qitor (KWQ) asal Lenteng Sumenep



kirim ke teman | versi cetak

Berita "Artikel" Lainnya

 
   
powered by AuraCMS 2.2 Design by Kaweki.Com © 2008 Disponsori Oleh DetikHosting,