Interaktif

Rubrik

Artikel Terakhir

Top Download

Random Links

Roland Gunawan

View : 128 x hits
Join : 05-Aug-2008 22:05:04

Login


Username
Password

Register
Forgot Password

Statistik Situs

Visitors :40453 Org
Hits : 95354 hits
Month : 981 Users
Today : 58 Users
Online : 4 Users

Langganan Artikel Portal KWQ

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 

Soal Jilbab

Rabu, 23 Desember 2009 18:05:37 - oleh : admin

Oleh:

Andi Ardana


Mendengar kata jilbab, tentu saja identik dengan perempuan dan juga masalah religiusitas. Apakah setiap perempuan yangmengenakan jilbab memiliki sifat religius, atau hanya sebagai formalitas?

Belum tentu seorang perempuan yang mengenakan jilbab, hatinya pun terlindungi oleh jilbab tersebut. Banyak orang sekarang yang mengenakan jilbab tapi masih melakukan banyak perbuatan maksiat. Tapi, janganlah bawa diri kita terhadap prasangka jelek tersebut, marilah kita ajak diri kita untuk menanamkan rasa husnudzdzon. Berprasangka baik lebih baik dari pada berprasangka buruk.

Begitu pula dengan keadaan politik indonesia yang sekarang sedang mencuat. Dengan beberapa peristiwa yang sangat ironis, semua menteri dalam kabinet bersatu I diganti, kecuali Sri Mulyani. Mentri keuangan indonesia hingga sekarang. Dengan peristiwa tersebut kita dapat mengambil beberapa implikasi bahwa adanya kepercayaan yang hilang dari benak bapak presiden kita. Tentunya, bukan hanya sekali dua kali perasaan itu muncul. Mungkin telah berkali-kali hingga akhirnya Susilo Bambang Yodhoyono memutuskan untuk mengganti semua mentri di kabinet bersatu II ini.

Dengan begitu, apakah politik harus memakai jilbab seperti perempuan juga? Apakah mereka harus menjaga aurat mereka dari aib-aib korupsi atau pernyelewengan-penyelewengan?

Politik berjilbab. Untuk menghilangkan jejak. Untuk tidak mencampurkan urusan negara kepada rakyat. Apakah itu yang mereka lakukan selama ini? Mereka yang gila akan jabatan, menghilangkan satu aspek sebuah negara yang demokrasi. Menyembunyikan uang demi kepentingan pribadi. Atau lain sebagainya. Apakah itu jilbab mereka? Jadi apa bedanya republik indonesia dengan kerajaan indonesia? Seteleh dijajah oleh belanda selama sekian tahun lamanya, kini mereka dijajah oleh negara mereka sendiri. Mana yang dinamakan sebuah demokrasi, jika sebuah kepercayaan luntur begitu saja termakan oleh waktu? Masih menyembunyikan hal-hal yang harus diketahui untuk kepentingan pribadi. Jika dalam memimpin masih melihat ke atas dan ke bawah, lebih baik jangan memimpin. Untuk apa memimpin jika akhirnya mementingkan diri peribadi.

Apakah mereka tidak memikirkan sebuah kedudukan yang mereka emban selama ini? Banyak dari mereka yang telah mendapatkan pendidikan yang cukup tinggi. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengemban gelar hingga S3. tapi, kemanakah cita-cita mendirikan negara untukmenciptakan keadilan? Seperti yang telah dilontarkan oleh banyak pemikir konsep keadilan. Tapi mereka yang menjadi pelaksana malah ngelantur dengan jabatan yang mereka emban. Terpesona dengan jabatan yang mereka duduki.Sebenarnya jika mereka sadar akan arti menduduki kursi keperayaan menjadi pemimpin, tentu mereka tahu apa yang harus mereka lakukan demi terciptanya keadilan di negara republik ini. Seperti yang diinginkan oleh banyak orang dan menjadi tujuan utama bapak proklamasi kita, Ir. Soekarno, para pemikir konsep keadilan dan semua rakyat indonesia.

Apabila kita mengingat tentang perjuangan bapak prokalamator kita, Ir. Soekarno. Maka, betapa kita seharusnya berterima kasih banyak padanya. Dengan gigihnya ia pertahankan negara ini hanya untuk keadilan. Tanpa meminta upah dari rakyat sedikitpun, bahkan ia rela mengorbankan nyawanya untuk terciptanya keadilan dinegara ini.

Sekarang yang menjadi tuntutan bersama adalah apakah mereka yang masih memakai jilbab kejelekan ini tidak memikirkan betapa susahnya Soekarno menciptakan keadilan? Apakah mereka tidak memiliki rasa hormat sedikitpun akan perjuangannya? Dengan semangatnya yang tinggi ia junjung martabat sebagai orang yang lahir di tanah indonesia ini, untuk menciptakan keadilan, kedamaian dan kesejahteraan. Tapi, saat ini begitu banyak mereka yang menghancurkan puing-puing perjuangan Ir. Soekarno.

Apakah mereka tidak malu? Mereka telah mencemarkan nama baik mereka sendiri. ia pun harus bertanggung jawab pada rakyat indonesia. Tapi yang menjadi pertanyaan yang sangat besar adalah “ apakah mreka siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka kelak kepada-Nya?”

Sekedar mengingatkan bahwa keadilan tercipta bukan dari atasan saja, melainkan terciptanya keadilan berada ditangan kita semua, selaku rakyat indonesia. Pejabat adalah rakyat, dan sejatinya rakyat adalah rakyat. Dan rakyat itupula yang seharusnya mendapatkan keadilan. Jangan sekali-kali kita mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan diri sendiri. malulah pada aib yang menjadi aurat seorang rakyat. Jangan kita cemarkan nama kita dengan noda-noda kejelekan. Hiasilah dengan kerja sama, untuk menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.

Agar kita semua hidup dengan kesejahteraan dan keadilan yang paling didamba-dambakan oleh semua orang di dunia ini, khususnya negara kita dan hati kita ini.


*Penulis adalah Santri PP. Al-Amien PRENDUAN Sumenep-Madura

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Opini" Lainnya

 
   
powered by AuraCMS 2.2 Design by Kaweki.Com © 2008 Disponsori Oleh DetikHosting,